Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 09, 2010

Ada Apa di Balik Pemblokiran BlackBerry?


Ternyata BlackBerry tak benar-benar aman dari penyadapan. Pemerintah AS bisa menyadapnya.



(VIVAnews)



Rencana berbagai negara di Timur Tengah dan Asia memblokir layanan BlackBerry kian hari kian meluas.

Uni Emirat Arab (UEA) pertama kali mengumumkan penutupan layanan ini mulai Oktober mendatang, kemudian menyusul Arab Saudi yang mengumumkan untuk memblokir layanan BlackBerry Messenger Jumat ini.

Kemudian isu ini terus bergulir ke negara-negara lainnya seperti India, Indonesia, Bahrain, Libanon dan Aljazair. Namun tak begitu banyak yang mengetahui cerita yang melatari awal rencana pemblokiran ini.

Seperti dilansir oleh situs berita AlJazeera, sebelum isu ini muncul, Uni Emirat Arab memang telah berusaha untuk menyadap layanan BlackBerry di negara itu. Seperti halnya negara-negara lain di dunia, UEA juga ingin bisa memonitor semua trafik komunikasi yang ada di wilayah mereka, termasuk yang menyebar melalui jaringan BlackBerry.

Menurut keterangan Thomas Shambler, seorang Editor Majalah Stuff di Dubai, pemerintah UEA pertama kali berusaha menjerat para pengguna BlackBerry dengan mengirimkan pesan SMS yang berbahaya di jaringan BlackBerry.

"Tahun lalu, Etislat (operator penyedia ponsel di UEA) mengirim pesan ke banyak pelanggan," kata Shambler. Teks pesan yang menjanjikan peningkatan layanan, namun ternyata mengarahkan pelanggan untuk mengunduh software mata-mata alias spyware.

Namun, software itu ketahuan. Sehari setelah kejadian itu, RIM langsung mengeluarkan program tambalan yang bisa menghapus software mata-mata tadi. Upaya pemerintah UEA untuk memonitor para pengguna BlackBerry di UEA, langsung kandas.

Akhirnya, pemerintah UEA meminta RIM untuk menyediakan server lokal dan memberikan kendali yang lebih luas agar mereka bisa mengakses informasi-informasi, yang dienkripsi di jaringannya. Langkah itu kemudian diikuti oleh banyak negara lain.

Selama ini, trafik layanan ponsel BlackBerry di seluruh dunia memang langsung ditarik ke server RIM di Kanada atau Inggris. Pemerintah-pemerintah di negara yang mengijinkan layanan BlackBerry, tak bisa menyadap jaringan ini karena mereka tak memiliki server pengontrol di masing-masing negara.

Namun, menurut RIM, informasi yang ditransmisikan melalui layanan BlackBerry memang dienkripsi sedemikian rupa sehingga RIM sendiri tak mampu mendekrip (memecahkan kode enkripsi) dan membacanya.

Tak heran bila kemudian layanan BlackBerry menjadi pilihan komunikasi bagi banyak lembaga pemerintahan di seluruh dunia, termasuk Federal Bureau of Investigation (FBI) di AS.

Selain itu, pemerintah AS juga merupakan salah satu pihak pengguna BlackBerry terbesar. Pada 2005 saja, pemerintah AS menggunakan 100 ribu perangkat BlackBerry untuk staf-stafnya. Tak hanya itu, BlackBerry juga menjadi andalan bagi para wartawan dan para aktivis hak asasi manusia di berbagai negara.

Tapi, benarkah konsumen benar-benar dapat mengandalkan keamanan data pribadi mereka di layanan BlackBerry. Ternyata, tidak juga. Menurut laporan AlJazeera, RIM membolehkan beberapa negara untuk bisa melihat trafik informasi yang mengalir di layanan itu. Beda kasus dengan negara-negara Arab yang siap memboikot RIM.

"Sepertinya negara-negara kecil seperti UEA tak akan diberikan kemampuan untuk melakukan hal yang sama," kata Ian Brown, Senior Fellow di Oxford Internet Institute.

Oleh karenanya, pemerintah UEA juga menuduh RIM tidak adil, karena menganggap RIM tidak memberikan hak penyadapan kepada negaranya, sebagaimana RIM memberikannya kepada pemerintah AS.

Di lain pihak, kepada Reuters, Mark Rasch, bekas Kepala Unit Kejahatan Komputer di Departemen Kehakiman AS, mengatakan bahwa pemerintah AS memang mampu menyadap informasi yang berseliweran di BlackBerry karena pemerintah AS memang memiliki teknologi yang memungkinkan hal itu.

"Kemampuan untuk menyadap berbagai alat komunikasi adalah bagian dari kegiatan pengawasan dan intelijen serta penegakkan hukum di seluruh dunia," katanya.

Oleh karenanya, pelanggan BlackBerry tak bisa lagi menganggap bahwa layanan ini 100 persen aman. Tapi, apakah mayoritas pelanggan BlackBerry begitu peduli tentang masalah penyadapan? Boleh jadi mereka tak beda dengan para pelanggan BlackBerry di UEA.

"Para pelanggan BlackBerry di sana tak begitu ambil pusing dengan masalah penyadapan," kata Thomas Shambler.

Mereka lebih khawatir kalau layanan BlackBerry mereka diblokir, bagaimana nantinya mereka bisa mengirim email, mengirim pesan instan ke orang-orang yang mereka kenal, atau bagaimana mereka bisa terus terhubung dengan rekan-rekan mereka. (sj)

• VIVAnews

Jumat, Agustus 06, 2010

INDONESIA....



The Republic of Indonesia, the world's fourth most populous nation, has 203 million people living on nearly one thousand permanently settled islands. Some two-to-three hundred ethnic groups with their own languages and dialects range in population from the Javanese (about 70 million) and Sundanese (about 30 million) on Java, to peoples numbering in the thousands on remote islands. The nature of Indonesian national culture is somewhat analogous to that of India multicultural, rooted in older societies and interethnic relations, and developed in twentieth century nationalist struggles against a European imperialism that nonetheless forged that nation and many of its institutions. The national culture is most easily observed in cities but aspects of it now reach into the countryside as well. Indonesia's borders are those of the Netherlands East Indies, which was fully formed at the beginning of the twentieth century, though Dutch imperialism began early in the seventeenth century. Indonesian culture has historical roots, institutions, customs, values, and beliefs that many of its people share, but it is also a work in progress that is undergoing particular stresses at the beginning of the twenty-first century.

The name Indonesia, meaning Indian Islands, was coined by an Englishman, J. R. Logan, in Malaya in 1850. Derived from the Greek, Indos (India) and nesos (island), it has parallels in Melanesia, "black islands"; Micronesia, "small islands"; and Polynesia, "many islands." A German geographer, Adolf Bastian, used it in the title of his book, Indonesien, in 1884, and in 1928 nationalists adopted it as the name of their hoped-for nation.

Most islands are multiethnic, with large and small groups forming geographical enclaves. Towns within such enclaves include the dominant ethnic group and some members of immigrant groups. Large cities may consist of many ethnic groups; some cities have a dominant majority. Regions, such as West Sumatra or South Sulawesi, have developed over centuries through the interaction of geography (such as rivers, ports, plains, and mountains), historical interaction of peoples, and political-administrative policies. Some, such as North Sumatra, South Sulawesi, and East Java are ethnically mixed to varying degrees; others such as West Sumatra, Bali, and Aceh are more homogeneous. Some regions, such as South Sumatra, South Kalimantan, and South Sulawesi, share a long-term Malayo-Muslim coastal influence that gives them similar cultural features, from arts and dress to political and class stratification to religion. Upland or upriver peoples in these regions have different social, cultural, and religious orientations, but may feel themselves or be perforce a part of that region. Many such regions have become government provinces, as are the latter three above. Others, such as Bali, have not.
















Rabu, Mei 12, 2010

PICT: Beautiful Indonesia

Inilah keindahan indonesia dimata dunia.

selamat menikmati keindahannya

[gallery link="file" order="DESC" columns="2"]

Semoga bermanfaat

SBT2010

Senin, Mei 10, 2010

Borbudur Temple in Java, Indonesia




Borobudur is a ninth-century Mahayana Buddhist monument in Magelang, Central Java, Indonesia. The monument comprises six square platforms topped by three circular platforms, and is decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. A main dome, located at the center of the top platform, is surrounded by 72 Buddha statues seated inside perforated stupa.

The monument is both a shrine to the Lord Buddha and a place for Buddhist pilgrimage. The journey for pilgrims begins at the base of the monument and follows a path circumambulating the monument while ascending to the top through the three levels of Buddhist cosmology, namely Kāmadhātu (the world of desire), Rupadhatu (the world of forms) and Arupadhatu (the world of formlessness) . During the journey the monument guides the pilgrims through a system of stairways and corridors with 1,460 narrative relief panels on the wall and the balustrades.